KETERBACAAN

PENERAPAN FORMULA KETERBACAAN FRY PADA ARTIKEL BERJUDUL “PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA DI SEKOLAH DASAR” KARYA WARSONO

oleh: Rasmian
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Unesa, email: riasmian71@gmail.com, web: rasmianmenulis.com

124891915

Pengantar
Membaca merupakan aktivitas penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi pelajar dan mahasiswa. Hal tersebut disebabkan membaca merupakan bagian dari aktivitas belajar. Selain itu membaca merupakan aktivaitas yang mampu menghasilkan pemahaman terhadap isi sebuah wacana dan kemudian menghasilkan interpretasi tertentu terhadap isi wacana yang dibaca.
Sebagai aktivitas yang penting bagi pelajar atau mahasiswa kegistsn membaca membutuh kan media yang disebut sebagai bacaan. Menurut Winarno Surakhmad (1982:85-94) dalam Sulastri (2010) , informasi yang terdapat dalam bacaan tersebut dapat dengan mudah dipahami apabila pembaca memiliki apersepsi (pengetahuan awal) yang cukup terhadap bahan yang sedang dibaca. Artinya panjang pendek, sederhana atau kompleksnya kalimat, abstrak atau konkrit bahasa yang dipakai tidak akan menghambat pemahaman pembaca terhadap suatu bahan bacaan apabila pembaca mempunyai cukup informasi yang berkaitan tentang hal tersebut. Dengan demikian semakin sering seseorang melakukan aktivitas baca maka kemampuan memahami bahan bacaan semakin meningkat.
Menurut Fry dalam Kisyani (2006:4.20) menggolongkan peringkat baca seseorang menjadi peringkat baca 1, 2, 3 sampai 17. Seseorang yang memiliki peringkat baca tinggi secara ideal mampu memahami setiap teks/buku yang dibacanya. Namun apabila buku tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang tidak sesuai untuk dirinya, ia belum tentu dapat memahami dengan mudah.
Makalah berjudul “Penerapan Formula Keterbacaan Fry Pada Artikel Berjudul “Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa Di Sekolah Dasar” Karya Warsono” ini ditulis dalam rangka ingin mengetahui tingkat keterbacaan artikel yang berjudul “Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa Di Sekolah Dasar” Karya Warsono”. Artikel tersebut merupakan salah satu artikel yang termuat dalam buku yang berjudul Bunga Rampai Pendidikan Karakter : Strategi Mendidik Generasi Masa Depan yang diterbitkan oleh Unesa University Press tahun 2011. Buku tersebut ditulis oleh bergai pakar di bidang masing-masing ini merupakan buku yang menawarkan konsep pendidikan karakter. Tentu saja sasaran buku tersebut adalah calon pendidik dan pendidik atau orang yang suka dengan pendidikan.
Masalahnya adalah apakah buku tersebut cocok bagi pembacanya? Makalah singkat ini akan mencoba menganalis keterbacaan buku tersebut dengan menggunakan teknik yang dikemukan oleh Edward Fry yang terkenal dengan istilah fomula keterbacaan Fry atau Grafik Fry.

Mengenal Katerbacaan dan Teknik Analisis Keterbacaan Fry
Formula keterbacaan Fry diambil dari nama pembuatnya yaitu Edward Fry. Formula ini mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah “Journal of Reading”. Grafik keterbacaan yang diperkenalkan Edward Fry ini merupakan formula yang dianggap relatif baru dan mulai dipublikasikan pada tahun 1977 dalam majalah “Journal of Reading”. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968.
Formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama, yakni panjang-pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang ditandai oleh jumlah (banyak-sedikitnya) suku kata yang membentuk setiap kata dalam wacana tersebut.
Perhatikan Grafik Fry berikut ini.

Dalam grafik di atas terdapat angka seperti angka 108, 112 sampai 182 yang terdapat di bagian atas dan bagian bawah grafik. Angka-angka tersebut menjunjukkan data jumlah suku kata per seratus kata. Seratus kata merupakan jumlah sampel pengkuran keterbacaan teks/wacana ( Kisyani, 2006:4.12).
Sedangkan di samping kiri grafik terdapat angka-angka 2,0; 2,5 sampai dengan 25,0. Angka-angka tersebut menujukkan rata-rata jumlah kalimat perseratus kata. Sedangkan angka-angaka yang berada di tengah grafik merupakan angka yang menunjukkan perkiraan peringkat wacana yang diukur. Terdapat 17 peringkat yang menunjukkan perkiraan peringkat keterbacaan sebuah wacana (Kisyani, 2006:4.13).
Daerah 1 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 1 SD/ MI, daerah 2 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 2 SD/ MI, daerah 3 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 3 SD/ MI, daerah 4 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 4 SD/ MI, daerah 5 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 5 SD/ MI, daerah 6 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 6 SD/ MI. Sedangkan daerah 7 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 7 SMP/MTs, daerah 8 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 8 SMP/MTs, daerah 9 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 9 SMP/MTs. Daerah 10 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 10 SMA/MA/SMK, daerah 11 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 11 SMA/MA/SMK, daerah 12 menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca siswa kelas 12 SMA/MA/SMK. Sedangkan daerah 13 s.d 17+ menunjukkan teks/wacana cocok untuk pembaca mahasiswa perguruan tinggi atau seorang profesional (Kisyani, dkk, 2006:4.13).
Langkah-langkah untuk mengukur keterbacaan melalui Grafik Fry sebagai berikut.
1. Pilihlah penggalan wacana yang baik dari wacana yang standar yang hendak diukur sebanyak 100 kata.
2. Hitunglah jumlah kalimat yang terdapat dalam wacana tersebut. Dalam penghitungan kalimat ini sisa kata yang termasuk dalam 100 kata dinyatakan dengan bilangan decimal.
3. Hitunglah jumlah suku kata dalam wacana sampel tersebut.
4. Kalikan jumlah suku kata tersebut dengan bilangan 0,6 (bilangan konversi grafik Fry yang ditawarkan oleh harjasujana dan Mulyati.
5. Masukkan angka jumlah kalimat dan jumlah suku kata pada langkah 4 dalam Grafik Fry sehingga membentuk titik koordinat. Lihatlah hasil tersebut, dan analisis tingkat keterbacaannya (Kisyani, 2006:4.14-4.20)

Data dan Analisis Data
1. Penghitungan Kalimat dan Kata
Kebijakan pemerintah Melalui Menteri Pendidikan
1 2 3 4 5

dan Kebudayaan Mengenai pendidikan Karakter
6 7 8 9 10

perlu disambut Gembira dan Didukung Semua
11 12 13 15 16 17

pihak. Pendidikan Karakter Bukan hanya Penting
18 19 20 21 22 23

tetapi mutlak Dilakukan oleh setiap bangsa jika
24 25 26 27 28 29 30

ingin menjadi bangsa yang beradab. Banyak Fakta
31 32 33 34 35 36 37

membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang maju
38 39 40 41 42

bukan Disebabkan Bangsa tersebut Memiliki
43 44 45 46 47

Sumber daya Alam Berlimpah atau bangsa yang telah
48 49 50 51 52 53 54 55

Lama Merdeka Juga Bukan Bangsa yang Jumlah
56 57 58 59 60 61 62

penduduknya besar; Melainkan bangsa yang memiliki
63 64 65 66 67 68

karakter unggul, Seperti kejujuran, kerja keras,
69 70 71 72 73 74

tanggung jawab, Dan lainnya. Pentingnya pendidikan
77 78 79 80 81

karakter ini sudah disadari oleh pendiri negara,
82 83 84 85 86 87 88

dengan Mencanangkan Konsep nation and Character
89 90 91 92 93 94

buiding. Para Pendiri negara menyadari bahwa//
95 96 97 98 99 100

apa yang dicita-citakan dalam proklamasi Tidak
101 102 103 104 105 106

dilandasi Karakter yang baik.
107 108 109 110

Dalam perhitungan grafik Fry dibutuhkan data 100 kata. Data 100 kata dalam makalah ini ditandai dengan langbang garis miring dua (//). Berdsarkan data di atas data 100 kata dimulai dari kata kebijakan sampai dengan kata bahwa.
Bedasarkan data di atas jumlah kalimat dalam data tersebut adalah 3, 30 kalimat. Kalimat pertama dimulai dari kata kebijakan sampai dengan kata pihak, kalimat kedua dimulai darikata pendidikan sampai dengan kata lainnya, sedangkan kalimat ketiga dimulai dari kata pentingnya sampai dengan kata building.
Kalimat keempat yang dalam perhitungan ini hanya dipakai 0,33 dimulai dari kata para sampai dengan kata baik. Perhitungan 0,33 dapat dijelaskan sebagai berikut. Kalimat keempat terdiri atas 15 kata, sedangkan dalam perihutungan ini hanya dipakai 5 kata. Berdasarkan data tersebut dapat dihitung dengan rumus: jumlah kata yang dipakai dalam perhitungan grafik dibagi jumlah kata seluruh kata. Penghitungannya adalah 5/15 sama dengan 0,33. Angka 0,33 dibuatkan menjadi 0,30; sehingga jumlah kalimat di atas adalah 3 + 0,30 sama dengan 3,30.

2. Penghitungan Suku Kata
Berikut ini disajikan data suku dari100 kata yang telah disajikan di bagian sebelumnya.

Kebijakan pemerintah mela – lui Menteri Pendidikan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

dan Kebudayaan mengenai pendidikan Karakter
20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

perlu Disambut gembira dan didukung Semua
37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

pihak. Pendidikan karakter Bukan hanya Penting
52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66

teta pi Mutlak dila-kukan oleh setiap bangsa Jika
67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84

ingin menjadi bangsa yang beradab. Banyak Fakta
85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99

membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang Maju
100 101 102 103 104 104 105 106 107 108 109 110 111

Bukan Disebabkan Bangsa tersebut memiliki
112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126

Sumber daya alam berlimpah a ta u Bangsa yang
127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141

Telah lama Merdeka juga Bukan bangsa yang jumlah
142 1 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156

penduduknya besar; mela in kan bangsa yang
157 158 159 160 161 161 163 164 165 166 167 168 169

memi liki Karakter unggul, seperti kejujuran,
170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185

kerja keras, tanggung jawab, dan lainnya. Pentingnya
186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200

pendidikan Karakter ini Sudah disadari oleh pendiri
201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220

negara, dengan Mencanangkan konsep Nation And
221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235

Character building. Para pendiri negara menyadari bahwa//
236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254

Untuk mendapatkan simpulan apakah sebuah teks memiliki keterbacaan dapat diukur dengan formula grafik Fry. Langkah yang dilakukan adalah dengan menghitung jumlah suku kata dalam dari jumlah 100 yang telah ditentukan.
Berdasarkan penghitungan suku dari 100 kata yang telah ditentukan di bagian sebelumnya diperoleh informasi bahwa terdapat 254 suku kata dari 100 kata tersebut. Hasil tersebut belum dapat dimasukkan dalam grfik fry. Hal ini disebabkan grafik Fry merupakan penelitian yang dilaksanakan untuk bahasa Inggris, sedangkan penelitian ini objeknya adalah teks berbahasa Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Harjasujana dan Mulyati dalam Kisyani (2006:4.20) bahwa Grafik Fry tidak bisa digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana dalam bahasa Indonesia, kecuali jika dilakukan pemodifikasian terhadap alat tersebut. Harjasujana dalam Kisyani (2006:4.20) memberikan formula bahwa hasil perhitungan suku kata tersebut dikalikan 0,6. Berdasarkan hal tersebut dapat dilakukan penghitungan sebagai berikut.
254 x 0,6 = 152,4; dibulatkan menjadi 152.
Dari perhitungan tersebut diperoleh data bahwa penggalan artikel yang diteliti dalam makalah ini terdiri atas 152 suku kata.

3. Analisis Data Berdasarkan Grafik Fry
Langkah berikutnya setelah menghitung suku kata adalah memasukkan hasil hitungan tersebut ke grafik Fry.
Berdasarkan data hasil penghitungan kalimat, dan suku kata diperoleh informasi bahwa terdapat 3,30 dan 152 suku kata. Data tersebut dimasukkan dalam grafik Fry sebagai berikut. Berdasarkan grfik Fry data tersebut masuk di koordinat (3,30;152). Koordinat tersebut berada di area 12 grafik Fry.
Perhatikan grafik fry berikut ini yang diterapkan dalam hasil perhitungan di atas.

Gambar di atas merupakan Grafik Fry. Grafik Fry dipakai untuk mengukur tingkat keterbacaan teks. Jumlah kata yang dipakai sebagai sampel dalam grafik Fry adalah 100 kata.
Garis horizontal pada grafik di atas yang bernilai 108 sampai 182 menujukkan nilai rata-rata jumlah suku kata per 100 kata. Sedangkan garis vertikal pada Grafik Fry yang bernilai 2,0 sampai 25,0 menunjukkan rata-rata jumlah kalimat per 100 kata. Daerah bergaris kotak dalam grafik tersebut merupakan daerah keterbacaan sebuah teks.
Cara membaca grafik pada makalah ini adalah dengan menunjuk daerah titik koordinat. Yang dimaksud titik koordinat adalah titik yang terbentuk akibat pertemuan garis horizontal (garis nilai rata-rata jumlah kalimat) dan garis vertikal (garis nilai rata-rata suku kata kalimat). Misalnya saja titik koordinat (4,0; 140) dapat dimaknai sebagai jumlah kalimat 4,0 dan jumlah suku kata 140 suku kata. Titik koordinat tersebut berada di wilayah 9.
Daerah tersebut di bagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berbentuk seperempat lingkaran berada di ujung kanan atas grafik. Daerah ini berada pada titik koordinat (8,3;182) sampai dengan titik koordinat (25,0;144). Daerah ini dinamai daerah invalid. Artinya jika ada teks yang berada di titik koordinat tersebut keterbacaannya disebut keterbacaan tidak valid atau tidak sesuai atau tidak dapat dibaca oleh kelompok usia manapun.
Daerah kedua berada di bagian ujung kiri bawah grafik. Daerah ini berada di titik koordinat (2,0;128) sampai dengan titik koordinat (4,2;108). Daerah ini berbentuk segiriga melengkung. Daerah ini juga disebut sebagai daerah invalid.
Daerah yang ketiga merupakan daerah yang menunjukkan daerah keterbacaan sebuah teks. Daerah ini berada di bagian tengah, daerah yang paling luas dalam grafik Fry, antara daerah invalid pertama dengan daerah invalid kedua. Di daerah ini terdapat angka 1 sampai angka 17+. Batas daeah dalam grafik ini ditunjukkan dengan garis lurus dari titik kiri bawah menuju titik kanan atas.
Berdasarkan grafik di atas wacana yang ditulis Warsono yang berjudul “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar” berada pada titik koordinat (3,30;152). Titik koordinat di atas berada di daerah 12. Dengan demikian wacana tersebut cocok untuk pembaca tingkat 12 atau cocok untuk siswa kelas 12 SMA/MA/SMK.
Menurut Prof. Dr. Kisyani, M.Hum dalam perkuliahan mahasiswa S2 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia-Daerah Universitas Negeri Surabaya tanggal 15 Mei 2012 tingkat keterbacaan pada Grafik Fry yang menunjuk pada daerah 2 berarti wacana tersebut cocok dibaca oleh siswa kelas 2 dikurangi 1, kleas 2, dan kelas 2 ditambah 1, atau dengan kata lain cocok untuk kelas 1, 2, dan 3, dan seterusnya. Berdasarkan hal tersebut wacana yang ditulis oleh Warsono tersebut cocok untuk pembaca di kelas 11, 12 SMA/MA/SMK dan 13 dan mahasiswa perguruan tinggi semester awal.

Simpulan
Wacana yang ditulis Warsono dengan judul “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar” cocok untuk pembaca di kelas 11, 12 SMA/MA/SMK dan 13 dan mahasiswa perguruan tinggi semester awal.

Daftar Bacaan
Kisyani, 2006. “Penerapan Formula Keterbacaan’’ dalam Membaca 2 ( Modul UT).
Sulastri, Isna. 2010. “Keterbacaan Wacana Dan Teknik Pengukurannya” (artikel online) http://uniisna.wordpress.com/ diakses 26 Mei 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*

ChatClick here to chat!+